Selasa, 04 November 2008

Ki Ageng Selo - Kiai Petir


Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja - raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).Menurut cerita dalam babad tanah Jawi ( Meinama, 1905; Al - thoff, 1941), Ki Ageng Sela adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki - laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikimpoikan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkimpoian antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kimpoi dengan Ki Ageng Ngerang.Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya .Kesukaan Ki Ageng Sela adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi - bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Sela mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam tapanya itu Ki Ageng selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja - raja besar yang menguasai seluruh Jawa .Kala semanten Ki Ageng sampun pitung dinten pitung dalu wonten gubug pagagan saler wetaning Tarub, ing wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng sare wonten ing ngriku, Ki Jaka Tingkir (Mas Karebet) tilem wonten ing dagan. Ki Ageng Sela dhateng wana nyangking kudhi, badhe babad. Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka Tingkir sampun wonten ing Wana, Sastra sakhatahing kekajengan sampun sami rebah, kaseredan dhateng Ki Jaka Tingkir. ( Altholif : 35 - 36 ) .Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja - raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata :Nanging thole, ing buri turunku kena nyambungi ing wahyumu (Dirdjosubroto, 131; Altholif: 36 ). Suatu ketika Ki Ageng Sela ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya dia harus mau diuji dahulu dengan diadu dengan banteng liar. Ki Ageng Sela dapat membunuh banteng tersebut, tetapi dia takut kena percikan darahnya. Akibatnya lamarannya ditolak, sebab seorang prajurit tidak boleh takut melihat darah. Karena sakit hati maka Ki Ageng mengamuk, tetapi kalah dan kembali ke desanya : Sela. Selanjutnya cerita tentang Ki Ageng Sela menangkap “ bledheg “ cerita tutur dalam babad sebagai berikut :Ketika Sultan Demak : Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar - benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak - enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “ bledheg “ itu menyambar Ki Ageng, berwujud seorang kakek - kakek. Kakek itu cepat - cepat ditangkap nya dan kena, kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan demak. Oleh Sultan “ bledheg “ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun - alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “ bledheg “ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek - nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg “ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “ bledheg : tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “ bledheg hancur berantakan.Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “ Bende “ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. Bila “ Bende “ tersebut dipukul dan suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak berbunyi pertanda perangnya akan kalah.Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang menggendong anaknya di tengah tanaman waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuhnya, tetapi dia “ kesrimpet “ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng Sela menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman rumah memakai kain cinde .… Saha lajeng dhawahaken prapasa, benjeng ing saturun - turunipun sampun nganthos wonten ingkang nyamping cindhe serta nanem waluh serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto : 1928 : 152 – 153 ).Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng Sela mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba ( Wanasaba ), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki - laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kimpoi dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama - sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. ( M. Atmodarminto, 1955 : 1222 ) .Dari cerita diatas bahwa Ki Ageng Sela adalah nenek moyang raja - raja Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Sela sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja - raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Sebelum Garabeo Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Sela untuk mengambil api abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja - raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap sebagai keramat .Bahkan dikatakan bahwa dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak - arakan, agar setiap pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan ditempat pemujaan di rumah masing - masing. Menurut Shrieke ( II : 53), api sela itu sesungguhnya mencerminkan “asas kekuasaan bersinar “. Bahkan data - data dari sumber babad mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja - raja didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar; adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang .Dari pandangan tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles masih menemukan sisa - sisa bekas kraton tua ( Reffles, 1817 : 5 ). Peninggalan itu terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil. Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi .Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber - sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut .Ketika daerah kerajaan dalam keadaan perang Diponegoro, Sunan dan Sultan mengadakan perjanjian tanggal 27 September 1830 yang menetapkan bahwa makam - makam keramat di desa Sela daerah Sukawati, akan tetap menjadi milik kedua raja itu. Untuk pemeliharaan makam tersebut akan ditunjuk dua belas jung tanah kepada Sultan Yogyakarta di sekitar makam tersebut untuk pemeliharaannya. ( Graaf, 3,1985 : II ). Daerah enclave sela dihapuskan pada 14 Januari 1902. Tetapi makam - makam berikut masjid dan rumah juru kunci yang dipelihara atas biaya rata - rata tidak termasuk pembelian oleh Pemerintah.

diambil dari website :http://www.grobogan.go.id/cerita_ki_ageng_selo.htm

How Surge Arresters Works...

Along the artefact of this matter you module be scholarly how
inflate arresters entireness in electrical equipment same an
disbursement tranmission lines. lets prototypal provide the
definition of cost and then Classification of arresters and
Arrester Selection.
Definition of terms:Surge arrestera figure utilised to protect equipment against over voltages
caused by inbound surges.
MCOV - peak constant operative voltageMaximum emf the figure crapper resist before conductivity
(clamping) begins. When applying metal pollutant SA, the peak
continuance of this emf is commonly the peak grouping
line-to-ground voltage.
Duty wheel emf ratingThe designated peak tolerable emf between terminals at which
the constraint is fashioned to action its obligation cycle.
TOV – temporary over voltageThese are created by faults on the programme noesis
organisation grouping and crapper drive comprehensive
alteration since their instance field is such individual (ms
to seconds to hours)
Duty wheel judgement (kV rms)the designated peak tolerable operative emf between arrester’s
tangency at which it is fashioned to action its obligation
cycle.
Discharge currentthe underway that flows finished an constraint as a
termination of surge.
Discharge voltagethe emf that appears crossways the terminals of an constraint
during the lawmaking of execute current. The execute emf
resulting from 8/20 us underway gesture appearance fairly
substantially between the underway magnitudes of 5kA and 20kA.
8 x 20 microsecond underway gesture shapea underway gesture appearance that rises to upside in 8
microsecond and decays to one-half upside continuance in 20
microsecond.
Lead lengthis the compounded size of the distinction advance and
connector advance size in program with the constraint and in
nonconvergent with the figure or telegram existence protected.
*
Insulation coordinationThe impact of correlating the detachment resist levels of the
fortified equipment and the conserving characteristics of
inflate arresters
Protective Marginis a manoeuvre of inflate arrester’s knowledge to protect a
example of equipment or a system.
**
Nominal Voltagethe emf by which the grouping haw be designated and is nearby
the emf take at which the grouping ordinarily operates.
Maximum System Voltagethe maximal phase-to-phase emf for which equipment is
fashioned for passable constant activeness without derating of
some kind.( maybe 5 to 10 proportionality higher than the minimal emf )
Classification of ArresterStation collectionsolon ruggedly constructed than grey and organisation classGreater inflate underway execute abilityLower IR emf modify (better protection)Only collection acquirable for ingest on systems above 150 kVRecommended for every s/s of super power ( 10 MVA and above)
Intermediate typeIR emf modify higher than send classCost action compared to send classAvailable at ratings 3 kV finished 120 kV
Distribution Typeconserving symptomatic are not as beatific as either send &
intermediatepractical at baritone emf organisation substation transformers
Selection of Arrester
System VoltageLine to connector voltageVoltage regulationGrounding informationGroundedUngrounded/resistance groundedArrester ClassProtection LevelEnergy CapabilityPressure comfort rating
Surge Arrester Specification SampleType: Station ArresterHousing Make: PolymerConductive Element: Metal OxideRated Voltage (Duty Cycle): 12KVMCOV: 10.2KVPressure Relief Class: 65KAEnergy Capability: 3.8 kJ/kV
MCOV RatingExample:13.8 KV System, Y – grounded, 10% emf regulation
(13.8/1.732) x 1.05 = 8.37(or 8.4 MCOV)Duty Cycle Rating – 10 KV (from catalog)
69 KV System, Y - grounded, 10% emf regulation(69/1.732) x 1.05 = 41.86 (42 MCOV)Duty Cycle Rating – 54 KV (from journeyman 54-60 KV)***
- Insulation Coordination- Fault CurrentProtective MarginsDischarge VoltageFull Wave- Switching Surge- Lead length****
Protective MarginMinimum conserving edge is 20% as advisable by ANSI
C62.22.1-1996 page19
% edge = (equipment resist level- 1 / Arrester Protective
Level ) x 100%
Note of Caution:The actualised PM offered by an constraint module depart from
the premeditated PM value. This is because the surge
endorsement industry calculates BIL edge percentages on the
foundation of the industry-standard 8×20-microsecond gesture
shape. However, the actualised gesture appearance of a
lightning inflate crapper be such faster than that of the
8×20-microsecond gesture shape.
Discharge Voltage Margin(Chopped Wave Withstand – Equivalent face of Wave) % Margin = (CWW - 1/PL1)x 100% where:CWW = Chopped Wave Withstand (1.15 x BIL)PL1 = Steep Current Residual Voltage at 0.5 sec wave
Full Wave Margin(Full Wave Withstand Discharge – Discharge Voltage for Impulse
Current at Rated kA) % Margin = (BIL - 1/ PL2)x100% where:BIL = Basic Impulse Insulation Level of Protected EquipmentPL2 = Lightning Impulse Residual Voltage at 8/20sec gesture &
rated kA
Switching Surge Margin(Switching Surge Withstand – Switching Surge Voltage) % Margin = (SSWL - 1/PL3) x 100% where: SSWL = Switching Surge Withstand Level of Equipment (0.83 x
BIL)PL3 = Switching Impulse Residual Voltage
Lead Length
V= L * di/dtL= .4 micro speechmaker per foot8/20 Wave @ 10 kA = 500 V per ft..5 Wave @ 10 kA = 8,000 V per ft.
note: 10 kA is the typically advisable continuance for the
coordinative current.
http://ebooks.mzwriter.com/e-books/how-surge-arresters-works/

Senin, 27 Oktober 2008

Gelombang Elektromagnetik EMC

Gelombang ElektromagnetikPROTEKSI PETIR (EKSTERNAL DAN INTERNAL)
UMUM1.1. Latar BelakangPetir pada masyarakat modern menjadi kendala yang sangat serius karena kemampuan untuk merusak infrastruktur sepert listrik, telekomunikasi dan informasi dan data yang semakin luas dan rumit, yang banyak menggunakan komponen elektronik dan mikroprosesor yang sangat sensitif terhadap pengaruh gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan oleh sambaran petir.Indonesia terutama wilayah sumatera, tangerang, bogor, jakarta dan bandung mempunyai kerapatan sambaran petir yang cukup tinggi dengan kerapatan sambaran sekitar 5 - 20 sambaran/km2/tahun sehingga kemungkinan kerusakan akibat sambaran petir sangat tinggi.Radio merupakan sarana infrastruktur yang sangat sering mendapat sambaran petir baik secara langsung maupun tidak langsung. Petir dalam setiap sambarannya meradiasikan gelombang elektromagnetik disekelilingnya. Gelombang ini mempunyai komponen magnetis dan elektris yang dapat menimbulkan tegangan lebih pada peralatan elektronik melalui :Kopling kapasitif dan kopling induktif Konduksi pada hantaran konduktif yang memasuki ruangan Elevasi tegangan karena adanya kopling galvanis. Peralatan telepon dan radio , komputer dan elektronika lainnya yang terdapat pada gedung sangat penting untuk menunjang operasional perusahaan maka perlu dilakukan tindakan pengaman terhadap pengaruh tegangan lebih petir. Untuk melindungi instalasi dan sistem dari bahaya pengaruh petir, maka perlu dilakukan tindakan pengamanan yang memadai melalui pemasangan sistem proteksi petir yang meliputi eksternal dan internal.1.2. Tujuan PekerjaanMenjamin tersedianya suatu sistem proteksi yang optimum sehingga kerusakan pada peralatan dapat dihindarkan.1.3. Ruang Lingkup PekerjaanSurvey sitem prtokesi petir yang ada Desqain sistem proteksi petir yang baru Perencanaan Sistem Proteksi Petir Konsep Zona Proteksi Konsep dasar desain sistem proteksi yang diajukan dalam laporan ini mengacu pada standar IEC 61024 - 1 tentang proteksi terhadap sambaran petir, IEC 1312 tentang proteksi terhadap impuls elektromagnetik, serta standar Amerika NFPA 780 tentang Proteksi Petir. Menurut standar IEC, daerah yang ditempati personil dan peralatan dibagi dalam zona-zona proteksi sebagai berikut Zona 0A : daerah dengan kemungkinan disambar petir langsung.Zona 0B : daerah yang terlindung dari bahaya sambaran langsung, namun mendapat pengaruh impuls elektromagnetik seperti sambaran petir langsung.Zona 1 : daerah yang terlindung dari bahaya sambaran petir langsung, namun mendapat pengaruh elektromagnetik yang teredam struktur bangunan.Zona 2 : zona dalam zona 1 yang mendapat tambahan perlindungan seperti kabinet.Zona 3 : zona dalam zona 2 dengan mendapat tambahan perlindungan seperti casing atau shielding lainnya.Konsep perencanaan Konsep dasar desain sistem proteksi mengacu pada standar IEC 61024 - 1 tentang proteksi terhadap sambaran petir, IEC 1312 tentang proteksi terhadap impuls elektromagnetik. Konsep umum sistem proteksi petir menurut standar IEC 1024 - 1 dan IEC 1312 dikelompokan menjadi 2 komponen :Proteksi eksternal untuk mencegah bahaya sambaran petir langsung pada personil, struktur dan peralatan. Dengan kata lain membuat zona 0B dari zona 0A. Proteksi ini dilaksanakan dengan memasang finial udara, down conductor, dan sistem grounding. Proteksi internal untuk mencegah bahaya impuls elektromagnetik pada peralatan akibat sambaran petir, atau membentuk zona 1 dan seterusnya. Proteksi ini dilaksanakan secara bertingkat pada tiap zona proteksi dengan cara : Shielding dan manajemen rute kabel Bonding semua komponen metal dalam zona proteksi Pemasangan arrester pada semua saluran listrik dan data yang masuk dari zona yang lebih rendah dibagian luar struktur/bangunan ke zona yang lebih tinggi di bagian dalam. Selanjutnya sistem proteksi petir diimplementasikan dengan mempertimbangkan Kerugian ekonomis akibat sambaran petir yang dirinci sebagai berikut :Kerugian akibat perbaikan yang harus dilaksanakan. Kerugian akibat tidak berfungsinya peralatan. Kerugian akibat hilangnya material. Kerugian akibat hilangnya keuntungan. Selanjutnya sistem proteksi petir diimplementasikan dengan mempertimbangkan dua macam resiko :Resiko ekonomis Resiko teknis Nilai kerugian ekonomis tangible yang mungkin diderita akibat sambaran petir dinyatakan sebagai resiko ekonomis.Kerugian ekonomis akibat sambaran petir dapat dirinci sebagai berikut :Kerugian akibat perbaikan yang harus dilaksanakan. Kerugian akibat tidak berfungsinya peralatan. Kerugian akibat hilangnya material. Kerugian akibat hilangnya keuntungan. Resiko teknis mencakup kerugian-kerugian tidak dapat diukur secara ekonomis, yang meliputi :Kerugian personil, yaitu kematian, luka, dan kekacauan akibat sambaran langsung, terkena tegangan sentuh, terkena tegangan langkah, ledakan, kebakaran dan peristiwa ikutan lain akibat sambaran petir. Timbulnya ongkos sosial, yaitu penurunan citra perusahaan di muka publik akibat terganggunya rasa aman masyarakat sekitar karena kebakaran, ledakan, kebocoran gas beracun dan kejadian ikutan lain akibat sambaran petir. Gangguan terhadap kelangsungan operasi atau kelangsungan pelayanan publik, yaitu terputusnya supply tenaga, terganggunya sistem kontrol, terputusnya komando utama terhadap sistem utama instalasi strategis akibat sambaran petir pada salah satu komponen vital dari instalasi. Kehilangan atau korupsi data pada sistem komputer dan pengolah data akibat sambaran petir. Kerusakkan peralatan atau struktur yang mempunyai nilai ekonomis maupun nilai non ekonomis ( nilai strategis, budaya, dan lainnya) Proteksi Terhadap Bahaya Sambaran Langsung Gedung atau struktur yang ditempati peralatan elektronik sensitif seperti sentral radio, telekomunikasi, dan pusat komputer harus diamankan dari bahaya sambaran langsung serta bahaya ikutannya berupa impuls elektromagnetik. Dalam hal ini sistem proteksi eksternal harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga persoalan-persoalan berikut dapat diperkecil :Sambaran pada sisi menara / bangunan tinggi ke antena induksi elektromagnetik dari arus petir di down conductor ke peralatan sekeliling Side flash dari down conductor ke struktur / peralatan yang berdekatan Kenaikan tegangan tanah Differensial tegangan antar bagian yang terhubung secara galvanik. 1. Finial UdaraFinial (terminal) udara dipasang pada posisi sedemikian rupa sehingga dapat melindungi peralatan / instalasi / personil. Finial udara untuk gedung-gedung dipasang di atas atap struktur yang bersangkutan sesuai dengan bentuk bangunannya. 2. Down Conductor Bila tidak dinyatakan lain, ketentuan tentang down conductor berlaku umum untuk semua jenis bangunan;Down conductor dipasang pada rute sependek mungkin serta tidak menimbulkan, bahaya side-flash pada manusia / peralatan dan bahaya induksi terutama bagi peralatan sensitif. Bila diperlukan, finial udara pada menara komunikasi dihubungkan dengan down conductor jenis kabel berperisai ganda untuk memperkecil induksi elektromagnetik dan bahaya side flash. Down conductor pada instalasi dengan peralatan sensitif harus dilengkapi dengan alat monitoring jumlah sambaran petir dan alat rekaman besar arus sambaran petir. 3. Sistem Grounding Bila tidak dinyatakan lain, ketentuan tentang sistem grounding berlaku umum untuk semua jenis bangunan;Sistem grounding yang terintegrasi diimplementasikan sedemikian rupa sehingga arus petir cepat terdissipasi tanpa menimbulkan kenaikan tegangan yang membahayakan peralatan dan personil, Grounding untuk menyalurkan arus petir secara efektif sebaiknya menggunakan banyak saluran / paralel dan sependek mungkin. Kombinasi antara grounding ring, grounding radial, dan driven rod diprioritaskan untuk instalasi-instalasi sensitif. Grounding petir, jika karena suatu alasan tidak boleh dihubungkan dengan grounding lain, maka dibonding satu sama lain menggunakan spark gap. Sistem grounding harus senantiasa dapat diperiksa dan dipelihara dengan menyediakan bak kontrol. Proteksi Tegangan Lebih Proteksi tegangan lebih dilaksanakan dengan kombinasi dari tiga komponen proteksi internal :Pemasangan bonding pada setiap komponen metalik yang ada dalam daerah proteksi atau masuk ke dalam daerah proteksi. Pemasangan arrester pada saluran listrik, telkom dan data sedapat mungkin pada titik masuk ke daerah proteksi (zone 1, 2 dan seterusnya) dengan koordinasi proteksi yang baik. Shielding dan pembenahan rute kabel bila perlu di kerjakan, guna mencegah induksi dari saluran ke saluran lain yang telah bersih. 2.4.1 BondingPola bonding dilaksanakan dengan memperhatikan aturan umum sebagai berikut:Bonding satu titik (One Point Earthing ) dianjurkan untuk instalasi dalam ruangan kecil dan titik masuk kabel berdekatan, seperti ruang radio. Bonding harus dilasanakan dengan saluran sependek mungkin dan selurus mungkin dengan impedansi rendah. Sistem bonding jaringan dan titik-titik bonding tersebut harus dihubungkan dengan grounding ring sekeliling ruangan sebanyak mungkin sejauh praktek dimungkinkan. 2.4.2 Proteksi Saluran ListrikPeralatan listrik harus dipasang arrester secara bertingkat : pada titik entri dari luar ke MDP, SDP dan pada setiap stop kontak equipment. Koordinasi proteksi dilaksanakan dengan memperhatikan karakteristik masing-masing arrester dan memanfaatkan impedansi saluran. Untuk mencegah induksi gangguan pada kabel yang telah diproteksi, arrester harus dibonding dengan saluran (ground lead) sependek dan selurus mungkin ke titik bonding terdekat. Ground lead pada MDP dilengkapi dengan alat monitor sambaran petir. Spesifikasi Arester harus disesuaikan dengan tegangan kerja , frekuensi kerja, daya/arus nominal serta besarnya arus petir yang harus dipotong sedemikian rupa sehingga arester berfungsi untuk memproteksi peralatan tanpa mengganggu operasi dari peralatan tersebut.2.4.3 Proteksi Saluran Data/TeleponPeralatan Data harus diproteksi dengan arester hybrid (gabungan antara coarse dan fine protection dengan sisipan impedansi di tengahnya) pada konektor/ peralatan atau terminal kontak. Spesifikasi arrester harus disesuaikan dengan tegangan kerja, frekuensi kerja, serta besarnya arus petir yang harus dipotong, sedemikian rupa sehingga arrester dapat berfungsi tanpa mengganggu operasi normal peralatan tersebut.2.4.4 Proteksi Saluran RadioRadio harus diproteksi dari tegangan lebih yang masuk lewat kabel antena. Bila dimungkinkan arrester dipasang pada titik entri kabel yang bersangkutan. Bila tidak dimungkinkan karena suatu sebab, maka arester dipasang pada sambungan ke equipment tetapi dengan memperhatikan pembenahan rute kabel dan integrasi titik bonding.Lingkup Pekerjaan Pekerjaan ini meliputi kajian dan perancangan sistem proteksi petir yang berada pada lokasi radio.Adapun kegiatan yang dilaksanakan untuk perancangan sistem proteksi petir adalah :3.1. Laporan Rencana Kerja Membuat laporan Rencana Kerja Studi dan Perancangan Sistem Proteksi Petir dari tower antena , control room, instalasi listrik, sistem telekomunikasi, komunikasi data dan asistem penyiaran. Menyampaikan laporan Rencana Kerja kepada pengawas Radio untuk mendapatkan persetujuan yang meliputi : Cara pelaksanaan Urutan kerja Masa pelaksanaan untuk jenis-jenis pekerjaan Bar Chart Jadwal tahapan laporan dan presentasi Melaksanakan penyempurnaan laporan Rencana Kerja sesuai komentar dan permintaan pengawas radio. 3.2. Survey/ Pengumpulan Data Melaksanakan survey Sistem Proteksi Eksternal dan Internal pada seluruh instalasi gedung radio, yang meliputi pemeriksaan grounding dan surge/lightning arrester dari peralatan power, komputer dan instrumentasi yang ada. Melaksanakan survey Sistem Proteksi Eksternal dan Internal pada seluruh tower antena yang meliputi pemeriksaan terminasi udara (finial), equipotential bonding, grounding dab surge/lightning arrester dari peralatan instrumentasi dan kontrol. 3.3. Laporan Hasil Survey Membuat laporan hasil survey Sistem Proteksi Eksternal dan Internal dari seluruh tower antena, bangunan control room, instalasi listrik, sistem telekomunikasi, komunikasi data dan ruangan penyiar . Menyampaikan laporan hasil survey kepada pengawas radio untuk mendapatkan persetujuan. Melaksanakan penyempurnaan laporan hasil survey sesuai komentar dan permintaan pengawas radio. 3.4. Analisa dan Evaluasi Data Melaksanakan pengkajian, analisa dan evaluasi Sistem Proteksi Eksternal dan Internal dari seluruh tower antena, bangunan control room, instalasi listrik, sistem telekomunikasi, komunikasi data dan ruang penyiaran . Melaksanakan analisa tegangan tinggi lebih (over voltage) akibat sambaran langsung dan tidak langsung pada seluruh tower antena, bangunan control room, instalasi listrik, sistem telekomunikasi, komunikasi data dan ruang penyiaran . Menentukan tingkat proteksi dan jenis sistem proteksi yang akan dijadikan dasar untuk membuat konsep/usulan penyempurnaan Sistem Proteksi Eksternal dan Internal dari seluruh tower antena, bangunan control room, instalasi listrik, sistem telekomunikasi, komunikasi data dan ruang penyiaran. 3.5. Perancangan Proteksi Petir Melaksanakan perancangan Sistem Proteksi Eksternal terhadap bahaya sambaran petir langsung pada seluruh tower antena, bangunan control room, instalasi listrik, sistem telekomunikasi, komunikasi data dan ruang penyiar lengkap dengan gambar detail desain. Melaksanakan perancangan Sistem Proteksi Internal terhadap bahaya sambaran petir tidak langsung pada seluruh tower antena, bangunan control room, instalasi listrik, sistem telekomunikasi, komunikasi data dan ruang penyiar radio lengkap dengan gambar detail desain. Didalam melakukan perancangan Sistem Proteksi Petir tersebut di atas, diinginkan bahwa : Sistem Proteksi Petir (SPP) tersebut harus berfungsi sedemikian sehingga didapat sambaran langsung yang minimum. Jika terjadi sambaran petir, SPP harus berfungsi sedemikian rupa sehingga : dapat mengendalikan arus petir, tidak terdapat tegangan induksi yang menyebabkan spark dan merusak peralatan, atau menyebabkan ledakan/kebakaran, tidak terdapat elevasi tegangan yang dapat merusak peralatan, tidak membahayakan manusia. SPP harus dirancangn sedemikian rupa sehingga tidak menggangu operasi radio dan dapat dipasang tanpa mengganggu operasi radio. Konsultan harus dapat memberi garansi/warrantly dalam 1 siklus musim. Melaksanakan penyusunan engineering package yang dilengkapi dengan gambar detail desain, spesifikasi teknis peralatan, jumlah kebutuhan material (Bill of Quantity), lingkup pekerjaan (scope of work) dan estimasi biaya pembangunan Sistem Proteksi Eksternal dan Internal pada seluruh tower antena, bangunan control room, instalasi listrik, sistem telekomunikasi, komunikasi data dan ruang penyiar. 3.6. Laporan Akhir Membuat laporan akhir Study dan Perancanaan Sistem Proteksi Petir dari seluruh tower antena, bangunan control room, instalasi listrik, sistem telekomunikasi, komunikasi data dan ruang penyiar radio. Laporan akhir berupa engineering package, estimasi biaya dan data petir. Menyampaikan laporan akhir kepada pengawas Radio untuk mendapatkan persetujuan. Melaksanakan penyempurnaan laporan akhir sesuai komentar dan permintaan pengawas Radio. IV. Program Pelaksanaan Pekerjaan4.1. UmumDalam melaksanakan pekerjaan akan dibagi atas tahapan sebagai berikut :Tahap pelaksanaan survey untuk mereview data tower antena, sistem kontrol, sensor dan instrumen, DCS, gedung, telekomunikasi, peralatan elektronika, komputer dan jaringan, komunikasi data dan catu daya, data sistem proteksi petir terpasang, dan jaringan instalasi listrik yang terkait, serta evaluasi. Tahap evaluasi dan analisa dilakukan penilaian tentang rancangan sistem proteksi yang ada dan perhitungan-perhitungan untuk penyusunan dasar-dasar perancangan. Tahap penyempurnaan dan perancangan akan dilakukan penyempurnaan terhadap rancangan sistem proteksi yang ada dengan menggunakan hasil-hasil perhitungan, dan analisa di atas sehingga dapat diselesaikan final design dan dapat dibuatkan engineering package. 4.2. Rencana Kegiatan Dalam tahap survey, analisa dan pembuatan rancangan dasar dilaksanakan antara lain pekerjaan-pekerjaan berikut : Survey tower antena, sistem kontrol, sensor dan instrumen, peralatan DCS, telekomunikasi, peralatan elektronika, komunikasi data dan catu daya beserta jaringannya serta sistem penangkal petir, sistem penyalur arus petir, dan sistem grounding yang terpasang. Survey sistem pentanahan dan penangkal petir terpasang. Survey kabel penghubung jaringan-jaringan sistem tenaga listrik. Survey catu daya untuk beban lampu di menara dan peralatan lain yang terpasang di luar bangunan. Survey peralatan komunikasi data, jaringan dan proteksinya serta sistem pentanahan yang terpasang. Survey instalasi lain yang terhubung secara galvanis dan elektris dengan peralatan di tower antena, sistem kontrol, sensor dan instrumen, peralatan DCS, gedung, telekomunikasi, komunikasi data dan catu daya beserta jaringannya. Perhitungan dan analisis sambaran langsung pada struktur/tower dan perhitungan tegangan lebih yang terjadi pada instalasi dan peralatan. Melakukan evaluasi terhadap rancangan sistem proteksi yang ada dan usulan penyempurnaannya. Dalam tahap perancangan maka pekerjaan akan meliputi : Penentuan kriteria design. Pembuatan konsep design. Pembuatan preliminary design atas dasar kriteria dan konsep design yang ditentukan. Pembuatan detail design. Pembuatan spesifikasi teknik dan daftar material. Penyusunan anggaran biaya dan jadwal pekerjaan. 4.3. Metoda dan Standar Perhitungan Perhitungan instalasi terhadap sambaran petir langsung dihitung dengan metoda electromagnetic concept dan collecting volume concept untuk mendapatkan daerah perlindungan maksimum dengan menggunakan karakteristik petir di daerah Bandung.Sistem pentanahan dari sistem proteksi petir dan instalasi yang akan dirpoteksi menggunakan konsep penyamaan tegangan atau equipotential yang menggunakan rel pentanahan (PEB) yang akan ditanahkan secara terpadu, sehingga tidak terjadi perbedaan potensial pada bagian-bagian instalasi, komponen dan metal perlindungan, sesuai dengan standar internasional yang berlaku, yakni IEC 61024-1/1993.Perhitungan tegangan lebih yang terjadi pada seluruh tower antena, ruang kontrol dan sensor serta instrumentasi, bangunan kantor, gedung, peralatan elektronik, telekomunikasi, komunikasi data dan jaringan, dan catu daya dilakukan dengan prinsip Lightning Protection Zone (LPZ) Concept (IEC 61024-1/1993). Dilakukan evaluasi tentang pengaruh tegangan lebih internal pada peralatan dari sisi kesesuaian elektromagnetik atau EMC - Electromagnetic Compatibility sesuai dengan standar IEC 61312/1997.
http://my-blog-its-me.blogspot.com/2008/08/gelombang-elektromagnetik.html(Ratna Febriani)

Selasa, 21 Oktober 2008

Manuscript Maintenance Petir 1999-2004


Maintenance Proteksi Petir yang dilakukan blogger pada kurun waktu 1999-2004 Download Catatan Maintenance Petir 1999-2004 A, Download Catatan Maintenance Petir 1999-2004 B,Download Catatan Maintenance Petir 1999-2004 C,Download Catatan Maintenance Petir 1999-2004 C

Special Thanks to Pak Gulman Kondi (Founders..), PT. Pratiwi Putri Sulung Crew (Emilia, Tony, Merin Fajar, Bagus, Wak Jum, Badroger :) etc..), ITB (Dr. Reynaldo Zorro, Dr. Syarif Hidayat- for Knowledge about it (Integrated LPS in 1999)

Posisi Sambaran Petir sebagai Bahan Investigasi

World Wide Lightning Location Network.. Citra Satelit yang menunjukkan aktifitas petir di dunia berguna sebagai bahan Investigasi terhadap Sambaran Petir di suatu daerah. Bisa dikolaborasikan dengan me-Raster Image Citra tersebut ke dalam program GIS (Geographic Information System) dalam format ESRI/ MapInfo atau yang lain yang familiar, sehingga akan diketahui Posisi Koordinat Bumi daerah yang tersambar petir pada "Jam" dan "Hari" dimana petir menyambar. Download Citra Satelit untuk Petir ,Download Image Sambaran Petir Setiap Hari


Tahukah Anda, Kalau Grounding Hanya Menyelesaikan 20% Masalah Petir

Setelah mengetahui dampak Sambaran Petir (Langsung dan Tidak Langsung), Pengetahuan minim masyarakat kita akan bahaya petir, Beberapa kalangan praktisi petir yang masih menganggap bahwa Grounding perlu dibuat sedalam mungkin dan Nilai Ohm yang paling kecil ..

"Benarkah kalau kita membuat Grounding untuk Fasilitas Device lalu kita memasang Rods yang jauh dari fasilitas tersebut demi mendapatkan Nilai OHM Terkecil?"

Maka perlulah kita buka-buka kembali catatan-catatan pengalaman maintenance petir, buku-buku referensi "Petir Tropis". mulailah beralih kepada pemikiran Integrated Lightning Protection System.. Dan mencermati Kecuraman Arus Petir sebagai 80% masalah petir.

Rabu, 15 Oktober 2008

Dampak "Sambaran Petir Langsung" pada Industri Migas




Dibawah ini adalah hasil rekam dampak sambaran petir pada fasilitas telekomunikasi, power pada industri migas di Indonesia. Betapa dahsyatnya "Panas"=Arus Listrik Sesaat yang melewati saluran Finial, Down Konduktor, Internal Proteksi, Grounding Bonding. Early Streamer Emission Air Terminal yang dipasang pada tower GWT 72 meter sampai loyo dibuatnya.. Arrester Tingkat II hancur beserta panel boxnya..
Bagaimana dengan kondisi PEB? Sepintas kelihatannya utuh, tapi hampir semua isi kabel baik kabel komunikasi RG dan power dalam keadaan hitam legam :)